Postingan

Ketika Yang Kau Tunggu Tak Kunjung Kembali

Tak ada yang lebih lelah dari menunggu Mengemban harapan pada mimpi Pada bayang yang hanya terus menjadi angan Aku terus bersamamu Pada setiap kenangan yang tidak lagi kita jalani Aku bahkan terus bersamamu Pada setiap janji yang mulai memudar Tak mengapa jika kau tak ingat, Mungkin, akulah yang bersalah karena terus keras kepala menolak lupa Mungkin, bahagia lain sudah kau temukan Lebih dari tawamu ketika bersamaku Aku terus menggenggam janjimu Bahkan membicarakannya pada ombak yang mengikis pasir pantai Berharap kau ada Bersama kapal-kapal yang silih berganti kembali ke dermaganya Namun tak ada celah Kau tak kunjung terlihat Mungkin memang kau tak ingin kembali Pada dermagamu yang selalu menunggu.

Melewatkanmu

Aku tidak tahu mengapa kamu selalu ada. Dalam setiap bayang ketika aku terpejam. Ketika aku lelah dan ingin terlelap, kamu hadir bagai klise yang selalu ingin terlihat. Sungguh, aku tak ingin seperti ini, aku ingin berhenti. Seringkali aku mengabaikan, seringkali aku memikirkan dan membayangkan hal lain agar bayang senyummu tak lagi ku lihat, namun ternyata itu percuma. Aku tak tahu apa dan bagaimana. Bagiku kamu hanyalah kawan lama yang sudah tak pernah ku temui lagi, tapi entah kenapa, aku selalu memikirkanmu bahkan ketika aku tidak tahu kamu dimana, bagaimana kabarmu, bagaimana kuliahmu, bahkan aku tidak tahu account instagrammu, path-mu, facebook-mu, dan semua account social media-mu aku tak pernah tahu. Hmm, aku bukannya tak tahu, tapi aku tak ingin mencari tahu. Karena aku ingin, kekagumanku padamu berhenti sampai disini. Aneh rasanya terus mengagumimu yang kini entah dimana. Kita dulu pernah begitu dekat, sangat dekat, tapi orang lain tak pernah tahu. Aku merindukan god...

Karena Kita tak Pernah Sama.

Laki-laki itu berlari menuju ke dalam stasiun setelah memarkirkan motornya. Ia menyerobot beberapa kerumunan orang. Beberapa saat ia berhenti. Melihat sekeliling untuk mencari tahu dimana orang yang dicarinya. Ia berlari lagi, berhenti, dan tak menemukan apapun. Ia pun duduk di kursi ruang tunggu penumpang. Mukanya tampak pucat, mungkin karena lelah. Ia menompangkan kedua tangannya pada kaki, dan kepalanya menunduk. Ia putus asa. Ia ingin marah pada dirinya sendiri. "Hey..." Tiba-tiba ada suara seorang gadis menyapanya. "Kamu ngapain di sini?" Lanjut gadis itu. Laki-laki itu-pun menengadahkan kepalanya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia belum terlambat. "Kamu belum berangkat?" Hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapkan. Gadis itu duduk di sebelahnya. "Belum, keretaku masih setengah jam lagi." "Aku tadi buru-buru ke sini begitu ingat bahwa kamu akan pergi hari ini." Ia menghela nafas, mencoba mencari ketenangan dalam ...

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama.

Aku pulang, membawa hatiku. Mengukir jarak sejauh takdir membawaku. Setidaknya, jarak ini bisa membuat aku sedikit lupa tentang kita, meskipun aku tau, sejauh apapun kakiku melangkah, sejauh apapun takdir membawaku, kamu akan selalu ada. 30 hari yang lalu terasa seperti mimpi, namun, sisa-sisa pesan singkatmu yang masih belum ku hapus menyadarkanku bahwa, kita memang mengukir lagi kenangan 30 hari yang lalu. Kita bertemu, melewatkan malam bersama hingga suaramu terdengar riuh di handphone-ku sampai pagi menjelang. Kita berbicara tentang banyak hal. Tentang mimpi, tentang pekerjaanmu, tentang kuliahku, tentang keluargamu, tentang keluargaku, tentang masa lalu kita dan tentang kekasihmu. Semalam saja rasanya tak cukup untuk bisa menghabiskan waktu bersamamu. Namun, aku tahu, aku tak bisa lama-lama bersamamu atau menemuimu. Bagiku, perpisahan denganmu adalah perpisahan termanis yang pernah aku rasakan. Aku memang bersedih, tapi ada kelegaan dalam hatiku. Mengetahui bahwa rinduku dan...

Untuk DuaMaret-ku

Aku kangen kamu, kangen banget sama kamu. Itu hal pertama yang pengen aku tulis buat kamu. Aku ga pernah tau gimana caranya mengutarakan ini sama kamu, karena aku gak tau, gimana caranya mengutarakan perasaan sama orang yang udah jadi milik orang lain. Kayaknya aku salah ya ngijinin kamu dateng ke rumah kemarin malem. Rasanya kayak ngebuka kotak lama yang udah kita tutup rapat-rapat. Begitu dibuka, isinya berhamburan, Kenangan. Hasilnya jadi gini, aku bimbang, kamu-pun juga. Tapi seharusnya gak ada yang perlu dibimbangin lagi diantara kita. Jalan kita udah beda, gak lagi sama. Kamu dengan jalanmu, dan aku dengan jalanku, yang tanpa kamu. Karena diantara kita, ada tabir gak bisa kita tembus hanya dengan cinta. Ada jarak yang gak bisa kita sentuh hanya dengan cinta.  Ada banyak hal yang pengen aku kasih sama kamu, ada banyak hal yang pengen aku bicarakan sama kamu, ada banyak cerita yang ingin aku bagi sama kamu, ada banyak mimpi yang ingin aku ceritakan sama kamu, tapi aku...

Unfaithful

 Dulu, aku masih sering berpikir kenapa orang-orang dengan mudahnya saling mengkhianati, mengingkari janji. Ada dari mereka yang pada akhirnya tak setia, setelah katanya bilang sangat mencintai pasangannya. Namun pada akhirnya, aku mengerti, perasaan bisa berubah, hati seseorang bisa berubah. Aku mengerti betapa terlukanya mereka yang cintanya terabaikan oleh mereka yang pada akhirnya memutuskan untuk berpaling pada yang lain. Patah hati, yang lukanya bahkan tidak bisa diobati dengan penawar apapun. Aku merasakan itu, sekarang. Dia, yang tiga tahun terakhir bersamaku, yang kuyakini tak akan seperti mereka yang berpaling, akhirnya pergi juga. Aku sadar, bahwa adanya jarak dihubungan kita setahun belakang ini juga membuat hati kita berjarak juga. Dia diujung sana, dan aku disini. Waktu bertemu kita berkurang, tak seperti dulu, saat masih duduk di bangku SMA, dimana kita masih bisa bertemu hampir setiap hari. Tapi, rasanya tak ikhlas. Semua pengorbanan seakan menguap tak berbekas...

Masih Kepada Kamu

Aku menulis ini saat rinduku tengah lumpuh ditengah jalan, bersama cintamu yang tengah bersemi di hati yang lain.Masih kepada kamu, topik utama dalam perbincanganku dengan Tuhan. Aku yang masih menyimpan rasa ini dengan baik dan kamu yang sedang membaginya dengan yang lain. Aku ingin menangis, karena rasanya tak kuat lagi untuk manahan sesak yang semakin menumpuk. Kalau tau akan seperti ini lagi, lebih baik jangan datang. Jangan tanamkan harapkan kalau pada akhirnya kamu juga yang membuat harapan itu mati. Ini tangisan yang entah untuk keberapa kalinya. Aku tak bisa perlihatkan didepanmu, aku tak bisa katakan pada semua orang, aku hanya ingin menangis, sendirian, hingga isaknya tak pernah terdengar ditelingamu. Kita hanya dua orang yang pernah berpapasan, tapi tak pernah ditakdirkan untuk bersama. Aku tidak dapat memahami jalannya takdir, kita selalu menemukan cara untuk kembali saling menatap, tapi pada akhirnya kamu yang berpaling terlebih dahulu. Dan kita, kita menjadi dua or...