Postingan

Patah Hati Terhebat

Wanita itu masih sesenggukan disebalahku. Sudah satu jam, dan air matanya tak kunjung berhenti mengalir. “kau tak lelah menangis?” ucapku. Dia hanya diam. Aku-pun mengalihkan pandangan. “kau tahu, di luar sana, masih banyak manusia yang sama terlukanya sepertimu.” Dia menoleh. “bahkan, banyak dari mereka yang lebih terluka dibanding   kau yang menangis sesenggukan hanya karena laki-laki sialan itu memilih wanita lain.” Ucapku sinis. “tapi, hatiku tetap saja terluka. Kau tidak tahu rasanya!” nadanya sedikit meninggi. Ku sunggingkan sebelah bibirku “kau bahkan tidak tahu luka seperti apa yang pernah menganga lebar dihatiku.” Dia menatapku heran. “lukamu itu bisa sembuh, setelah satu dua bulan kau akan mulai terbiasa. Paling lama setahun dua tahun, atau setelah kau menemukan penggantinya, lukamu akan lekas membaik dan kau akan menganggapnya angin lalu.” “kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak merasakannya!” Dia memarahiku. “hey, justru aku ...

Tanda Tanya

Puisi ini tentang yang tak kau baca Yang baitnya tetap membisu Meski mereka menyuruhnya melagu Ia berbicara tentang sendu matamu Yang kerap berkata meski meragu Diam mulutmu tak membuatku pilu Aku terus saja bertanya Adakah itu karenaku? Ah, aku ingin diam di kepalamu Untuk sekedar mengerti sandiwara matamu Tak bisakah jelaskan saja padaku? Kemanakah hatimu ingin jatuh

Mimpi Semalam

Aku memutar sebuah lagu dari Fiersa Besari yang berjudul Garis Waktu dalam perjalananku pulang dengan menumpangi kereta. Petikan gitar mulai mengalun seiring dengan pikiranku yang mulai menerawang jauh pada banyak hal. Aku suka cara Fiersa Besari menulis lirik dalam setiap lagunya. Aku suka caranya dalam menulis setiap bait dalam bukunya. Setiap kata hingga kalimat yang tersusun selalu membuatku terenyuh dan menyeruak kembali dalam kenangan. Seolah dia sedang menuliskan itu untukku. Aku sedang menatap keluar jendela saat lagu mulai sampai pada bait yang membuatku tersentak. "Sekarang kita hanya dua orang asing dengan sejuta kenangan". Aku teringat seseorang yang dulu sering ku sebut "gila". Si gila yang dulu sering menggangguku, si gila yang dulu sering menggodaku, si gila yang kini ku rindukan, dan si gila yang sudah terlalu asing bagiku. Si gila itu menggangu pikiranku sejak semalam. Sejak mimpi tentangnya membuatku resah seharian. Dan bisa ku pastikan, k...

Berubah.

Seorang teman pernah berkata padaku, "people change, cit" dan aku paham betul mengenai hal itu. Aku tahu bahwa manusia tak pernah sama dari waktu ke waktu. Setiap fase hidup yang mereka jalani memberi mereka peluang merubah dirinya, merubah pola pikirnya. Dan tentu, setiap orang ingin berubah ke arah yang lebih baik. Hari itu, aku tak sengaja melihat fotomu. Hatiku yang dingin berubah hangat ketika melihatnya. Aku tersenyum kecil, namun ada yang sedikit menyesakan. Ku amati lekat, ada yang berbeda. Kamu bukan kamu yang ku kenal dulu. Hatiku teriris. Seseorang yang pernah ku kenal dekat, kini jauhnya tak hanya seribu sekat. Miris. Lagi-lagi, kata "people change" terngiang-ngiang, dan aku berusaha memaklumi. Ada orang asing dalam dirimu. Lalu bagaimana denganku? Ini pertanyaan yang selalu ku ajukan kepada diriku sendiri. Aku ingin merubah pola pikirku, dan sedikit demi sedikit berhasil. Aku ingin merubah hatiku, dan sampai detik ini, ternyata belum juga ada ...

Bagaimana Jika

Bagaimana jika pada akhirnya, aku mencintai seseorang yang bukan kau? Bagaimana jika sesuatu yang selama ini kita perjuangkan berakhir tanpa bahagia? Bagaimana jika jadinya seperti ini, bukan seperti itu? Mungkin, aku terlalu banyak berpikir. Sudah terlalu banyak ragu yang menggerogoti relung hati. Ini bukan yang selalu aku harapkan. Saat usia remaja, aku selalu ingin segera menjadi dewasa, agar aku bisa memutuskan jalan hidupku sendiri.  Namun, ternyata menjadi dewasa tidak seperti yang selalu aku bayangkan. Menjadi dewasa itu memusingkan. Banyak keputusan yang harus ku buat, dan aku tak pandai dalam hal itu. Pikiranku selalu kalut, penuh dengan ketakutan. Aku butuh orang lain, aku butuh ayah ibuku. Tapi mereka bilang, ini hidupku, pilihlah. Dulu, aku memilihmu atas sebuah rasa. Namun, sepertinya rasa tak lagi yang utama. Kini aku mempertimbangkan dengan logika. Memutuskan dengan membayangkan masa depan. Bila pemikiranku salah, bisa coba kau luruskan? Atau coba sedikit s...

Merindumu Dalam Diam

Akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah menulis. Sesekali, hanya pada akun stellarku, itupun setelah aku mendengar cerita temanku atau ketika ada kejadian menarik di sekitarku. Aku seperti kehabisan ide dan tidak tahu kata-kata apa yang perlu ku susun. Mungkin, karena aku tak punya cerita yang perlu ku tuliskan. Dulu, ceritaku selalu tentang kamu. Namun, kini kamu sudah menjadi cerita milik orang lain.  Aku ingin berbicara perihal rindu, boleh?  Sudah lama rasanya tak melihatmu, bahkan memimpikanmu-pun tak pernah. Tetapi semalam kamu ada, dalam mimpiku. Seolah nyata, kamu membagi tawamu bersamaku. Aku tak ingat apa yang kita bicarakan dalam mimpi itu, namun bisa melihat tawamu lagi, aku bahagia. Hanya dengan bercerita begini, mataku mulai berkaca-kaca. Mungkin, karena apa yang kurasakan kini lebih dari sekedar rindu. Tak tahu harus ku artikan apa, yang jelas jika kamu ingin tahu, akhir-akhir ini bayangan tentangmu hadir lebih sering dalam lamunanku.  Aku ...

Let You Go

Aku sudah berjuang untuk mempertahankan kita. Di tengah segala perbedaan yang menyelimuti. Kamu selalu meyakini perbedaan bukanlah halangan untuk kita, dan akupun begitu. Karena aku mencintai kamu tanpa syarat, maka aku menerima kamu, menerima kita dengan segala apapun perbedaanya. Namun kini, yang menghalangi kita bukan lagi perbedaan. Melainkan dia yang sekarang mencoba memasuki hatimu. Bagaimana aku tidak marah, ada orang lain yang ingin menarik segala hati dan perhatianmu yang tadinya adalah milikku. Yang paling menyakiti hatiku adalah kenyataan bahwa kamu ternyata lebih memilih melepaskan aku, berhenti memperjuangkan kita, dan membuka hatimu untuk dia. Kamu tidak terluka dengan perpisahan kita? Baik, bisa ku simpulkan bahwa segala kebersamaan kita tak ada artinya bagimu. Semua tentang kita yang pernah ku perjuangkan dengan sungguh hilang tak berbekas. Aku sudah berusaha menghentikan perpisahan ini, karena sungguh, aku tak ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Itu mel...