Postingan

Aku Ingin

Aku terlalu percaya bahwa dunia ini sudah terlalu dipenuhi dengan orang-orang jahat, tapi kamu datang dan membuatku percaya bahwa masih ada orang baik di bumi yang semakin tua ini. setidaknya, itu khayalanku tentang kamu. Aku ingin kamu datang. Entah berapa tahun lagi. Dan hingga saat itu tiba, aku hanya ingin mendengar kamu berkata "aku pulang", dan ku mohon, jangan pergi lagi.   Aku ingin menikmati bumi yang semakin menua ini bersamamu, hingga renta. Hingga rambut kita memutih, hingga kita tak bisa membedakan nama-nama cucu kita kelak.  Aku ingin menjadi alasanmu pulang. Alasanmu untuk tidak berlama-lama diluar rumah. Alasanmu untuk memperbaiki masa depan. Karena aku ingin, masa depan adalah kita, kamu dan aku. Aku ingin menjadi tempat terbaikmu berteduh ditengah panasnya dunia yang semakin menyengat. Aku ingin menjadi orang yang akan berbagi dongeng denganmu sebelum tidur hingga kita sama-sama terlelap dalam dekap hangat.  Aku akan belajar memasak un...

Penghujung Tahun dalam Kenangan

Dua tahun lalu kamu pernah berkata "tahun baru kita ke bromo ya, kita lewatin malam tahun baru disana, bareng sama temen-temen aku juga." Dua tahun lalu, kamu bilang bahwa tahun-tahun berikutnya, ingin kamu lewatkan bersamaku juga. Dua tahun lalu, kamu bilang bahwa "gak nyangka ya bisa sejauh ini sama kamu." Iya, itu 2 tahun lalu. Sebelum akhirnya kita berpisah dan semua yang ku tuliskan tadi hanya harapan yang belum sempat terwujudkan oleh kita. Kamu menjadi orang yang begitu ku kenal, sebelum akhirnya menjadi orang yang terlalu asing bagiku. Melewatkan malam pergantian tahun bersamamu masih menjadi mimpi yang ingin ku jadikan nyata. Namun, percuma saja jika sekarang kamu tak lagi bersamaku. Bahkan dua tahun lalu, kita berpisah tepat satu minggu sebelum malam pergantian tahun. Dua tahun lalu, penghujung tahun menjadi cerita yang sempat tak ingin ku ingat lagi. Aku benci gerimis dipenghujung desember, padahal sebelumnya aku penikmat hujan yang baik, aku jug...

Finally, you.

Aku memperhatikan mukanya yang pucat karena guyuran air hujan malam ini. Bibirnya gemetar karena kedinginan. Tubuhnya terbungkus handuk yang ku bawakan, dan kedua tangannya menggenggam segelas cokelat panas yang baru saja ku buatkan. Tatapannya kosong, dan entah mengapa aku selalu sedih jika melihatnya seperti itu. Ia berlarian menuju rumahku ditengah derasnya guyuran hujan. Seperti biasa, ia lari padaku saat hatinya terluka. Saat ia ingin didengar, saat ia butuh menangis tanpa diketahui orang lain selain aku. “kamu kenapa?” tanyaku padanya yang masih saja menatap lurus dengan tatapan kosong. Aku duduk disampingnya, menatap wajahnya. Sungguh, rasanya ingin sekali saat itu aku menyentuh wajahnya. “aku gak apa-apa kok rin.” Ia menatapku sebentar, lalu kemudian memalingkannya lagi. Ia menghela nafas panjang. Dari bibirnya tersungging senyuman yang entah harus ku artikan apa. Tanganku kuberanikan memegang punggungnya, padahal pada saat itu yang aku inginkan bukan hanya memegan...

Rindu yang tak Ku Inginkan

Aku ingat, begitu banyak canda tawa yang telah kita lewati bersama. Ada banyak juga air mata yang menetes di pipimu karena aku. Di akhir cerita, aku membuat sebuah luka. Mungkin aku tak pernah menangis seperti kamu. Bukan, bukan karena kamu selalu sepaham sama aku, tapi memang aku lebih kuat menahan jatuhnya air mata daripada kamu. Meskipun batin serasa dihantam terus menerus saat itu. Sekarang, setelah setahun berlalu, aku kembali mengingat-ingat. Pikiranku sudah sangat-sangat waras saat ini, dibanding 1 tahun yang lalu. Aku berpikir tentang kita dulu, saat aku banyak menguras air mata kamu. Saat itu kita saling lupa, kita lupa untuk saling menjaga ego satu sama lain. Kita saling adu argumen kebenaran. Kebenaran untuk diri masing-masing. Mulutku tidak mau mengalah mengucapkan kebenaran yang belum tentu benar untuk kita. Sekali lagi, aku  tidak mau mengalah. Mungkin karena aku merasa sudah sering mengalah untuk sekedar membuat simpul senyum di wajahmu. Ego saling bera...

Terima Kasih Pak SBY

Selamat malam bapak. Mungkin ini hanya sebentuk tulisan yang tidak akan pernah Bapak baca. Saya ingin menulis ini sebagai bentuk kekaguman saya kepada bapak. Hari ini, presiden terbaru sudah dilantik, dan bapak turun dari jabatan bapak sebagai presiden. Terima kasih bapak, karena sudah bersabar memimpin rakyatmu yang kadang tak tau diri ini. Terima kasih telah mendedikasikan hidupmu selama 10 tahun. Maafkan mereka yang banyak mencaci maki, mereka hanya tidak tau dan tidak mengerti betapa berat bebanmu selama 10 tahun ini memimpin Indonesia. Saya kadang hanya tak habis pikir. Begitu banyak orang-orang yang mencaci makimu di sosial media. Sampai-sampai saya berpikir bahwa mereka terlalu jahat, atau mereka terlalu dibutakan oleh kebencian sehingga tidak dapat melihat pengorbananmu untuk Indonesia. Apa mereka lupa, bahwa mereka-lah yang dulu memilih bapak untuk menjadi pemimpinnya. Maafkan mereka-mereka yang tidak tau berterimakasih itu pak, mereka hanya lupa bahwa bapak-lah yang ...

Kepastian.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi ku tahan agar kita tetap baik-baik saja. karena bisa sedekat ini denganmu adalah salah satu kebahagiaan yang tidak ingin aku lepaskan. Kita adalah dua orang yang sudah banyak bicara tentang cinta. Tapi kita tak pernah sampai pada ujungnya. Iya, jadi selama ini kuanggap kita saling mencintai, kita berjalan ke arah yang sama, tapi kau tak pernah membawaku pada ujung muaranya. Kau hanya menggandengku perlahan. Lalu memberhentikan langkah kita di tengah perjalanan. Kita tidak mundur tapi juga tidak maju. Sejujurnya, aku ingin berlari bersamamu. Bukan hanya berlari menuju kamu.  Berbicara tentang cinta saja tidak cukup untuk memastikan kemana cinta berlabuh. Tidak cukup pula bagiku untuk memastikan hatimu milik siapa. Karena setiap hati butuh kepastian atas perasaannya. Agar ia tahu tempat yang tepat untuk meleburkan hatinya. Kadang aku bertanya-tanya, kenapa kepastian hubungan kita tak pernah keluar darimu. Sed...

Setelah tak Ada Lagi Kita

“Apa kabar?” itu katamu saat terakhir kali kamu menghubungiku minggu lalu. tentu saja akan ku jawab bahwa aku baik-baik saja. saat kau tanyakan lagi apakah aku baik-baik saja, tentu aku sangat baik. Aku tidak berbohong, memang aku sangat baik-baik saja. Dulu mungkin aku berbohong karena sebenarnya aku tak baik-baik saja, tapi semua keadaan sudah berbeda. Kau boleh lihat aku sekarang. Aku  bukan lagi gadis lemah seperti yang kau katakan dulu. aku bukan lagi gadis yang bercucuran air mata karena luka yang kau sebabkan. Aku bukan lagi gadis yang jatuh berlutut karena kepergianmu. Aku meyakini diriku bahwa kebahagiaanku bukan tergantung kamu. Sekarang aku sudah berdiri lagi. Untuk menunggu cinta yang baru. Tentu bukan cinta yang pernah kau janjikan. aku menunggu dia yang telah Tuhan siapkan untukku. Iya, aku memang sudah menghapusmu. Aku sudah mengkosongkan hati ini untuk yang lain. Karena tak adil rasanya bagi dia yang ingin mengisi hatiku jika masih ada kamu disana. Tidak, a...