Postingan

K.

Ada ruang yang tak pernah ku tahu kebenarannya, hatimu. 3 tahun berlalu dan aku masih saja belum memahami hatimu. Segala yang ada di depan mata tak cukup membuatku mengerti semua tanda-tanda. Kamu adalah tanya yang tak pernah terjawab. Teka-teki yang tak pernah bisa ku selesaikan. Mungkin, karena jawabannya bukan ada padaku. Tapi pada dia yang sekarang memenangkan hatimu.

Ketika Aku Sedang Rindu-Rindunya

Aku menulis ini saat sedang rindu-rindunya. Saat rasanya perasaan dalam dada semakin membuncah tanpa tahu harus bagaimana. Rindu ini semakin menyayat tak ubahnya rasaku yang semakin di ujung sayat. Setelah sekian lama, aku mengerti lagi apa itu patah hati. Merasakan lagi bagaimana rasanya, sekarang aku tahu, bahwa aku tak mati rasa. Ada kamu, di sini. Di sisi yang tak pernah kamu lihat adanya. Ini sudah berkali-kali. Aku sudah pernah mengatasi ini dengan segala kemampuanku. Tapi, entah kenapa rasanya kali ini aku kebingungan lagi. Aku paham betul ini bukan hal baru bagiku, tapi aku kesulitan, lagi dan lagi. Aku ingin berhenti dari segala rasa ini, tapi ternyata hatiku tak menginginkan demikian. Ia masih menginginkan kamu di sudutnya. Bertahta dan menjelma menjadi nyata meski hanya dalam anganku saja. Tolong, berhentilah bermain-main dengan hatiku, karena aku lelah. Lelah untuk semua harap yang ada, lelah untuk semua rindu yang tak pernah teraba.  Tapi, pada...

Petikan Gitar Niko

Iren menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang sedang bernyanyi dengan petikan gitar yang indah. Ia tau, suara itu berasal dari ruang musik. Iren memutuskan untuk mendekati ruang musik yang ada beberapa langkah dibelakangnya. Ia berdiri di depan pintu, dan tertegun melihat sosok yang ada di sana. Niko sedang asik menghayati lagu yang sedang ia nyanyikan di iringi dengan petikan gitar yang ia mainkan sendiri. Memang, Niko pandai sekali bermain gitar, ia pandai memainkan lagu apapun, dan hal itu yang membuat Iren tak pernah bisa berhenti mengagumi Niko.   “Ren, ngapain di situ, sini masuk” ucap Niko membuyarkan lamunan Iren. “Hah, iya Nik” Iren tidak tahu entah sejak kapan Niko menyadari kehadirannya, ia hanya sibuk dengan lamunannya tentang Niko. Iren menghampiri Niko dan duduk di bangku kosong yang ada di sebelah Niko. “Nggak ke kantin, Ren” ucap Niko sambil membenarkan gitarnya. “Nggak Nik, males, kantin pasti rame.” Niko menahan tawa “mau yang sepi sana ke p...

Kita Menyerah

Kamu bilang, aku adalah apa yang menjadi kuatmu. Kamu bilang Tuhan mengirimkan kita untuk satu sama lain. Tapi apa yang kamu bilang nyatanya harus patah pada kenyataan. Kita menyerah pada keadaan. Ada kerikil yang tak bisa kita tembus hanya dengan cinta. Bukankan perpisahan tak ada artinya apa-apa untuk kita? Karena sesungguhnya kamu telah memenangkan hatiku, dan begitu-pun sebaliknya. Mungkin, kata seharusnya sudah tak berlaku untuk kita. Yang harus kita jalani sekarang adalah kenyataan yang menghadapkan kita pada sisi yang berbeda. Entah nanti kita akan dihadapkan kembali atau hanya bersimpangan. Aku tak takut terluka, karena aku percaya padamu. Hatiku ada bersamamu, dalam setiap langkah kaki yang kau ukir. Tapi aku juga takut, membayangkan bagaimana kamu tanpa aku. Adakah bahagia lebih dari yang telah kita ciptakan? Kini kurapalkan doa, berharap Tuhan berbaik hati menghadapkan kita pada jalan sama kembali. Tapi, mungkin keinginan kita terlalu mahal untuk segera terkabulkan....

Ketika Yang Kau Tunggu Tak Kunjung Kembali

Tak ada yang lebih lelah dari menunggu Mengemban harapan pada mimpi Pada bayang yang hanya terus menjadi angan Aku terus bersamamu Pada setiap kenangan yang tidak lagi kita jalani Aku bahkan terus bersamamu Pada setiap janji yang mulai memudar Tak mengapa jika kau tak ingat, Mungkin, akulah yang bersalah karena terus keras kepala menolak lupa Mungkin, bahagia lain sudah kau temukan Lebih dari tawamu ketika bersamaku Aku terus menggenggam janjimu Bahkan membicarakannya pada ombak yang mengikis pasir pantai Berharap kau ada Bersama kapal-kapal yang silih berganti kembali ke dermaganya Namun tak ada celah Kau tak kunjung terlihat Mungkin memang kau tak ingin kembali Pada dermagamu yang selalu menunggu.

Melewatkanmu

Aku tidak tahu mengapa kamu selalu ada. Dalam setiap bayang ketika aku terpejam. Ketika aku lelah dan ingin terlelap, kamu hadir bagai klise yang selalu ingin terlihat. Sungguh, aku tak ingin seperti ini, aku ingin berhenti. Seringkali aku mengabaikan, seringkali aku memikirkan dan membayangkan hal lain agar bayang senyummu tak lagi ku lihat, namun ternyata itu percuma. Aku tak tahu apa dan bagaimana. Bagiku kamu hanyalah kawan lama yang sudah tak pernah ku temui lagi, tapi entah kenapa, aku selalu memikirkanmu bahkan ketika aku tidak tahu kamu dimana, bagaimana kabarmu, bagaimana kuliahmu, bahkan aku tidak tahu account instagrammu, path-mu, facebook-mu, dan semua account social media-mu aku tak pernah tahu. Hmm, aku bukannya tak tahu, tapi aku tak ingin mencari tahu. Karena aku ingin, kekagumanku padamu berhenti sampai disini. Aneh rasanya terus mengagumimu yang kini entah dimana. Kita dulu pernah begitu dekat, sangat dekat, tapi orang lain tak pernah tahu. Aku merindukan god...

Karena Kita tak Pernah Sama.

Laki-laki itu berlari menuju ke dalam stasiun setelah memarkirkan motornya. Ia menyerobot beberapa kerumunan orang. Beberapa saat ia berhenti. Melihat sekeliling untuk mencari tahu dimana orang yang dicarinya. Ia berlari lagi, berhenti, dan tak menemukan apapun. Ia pun duduk di kursi ruang tunggu penumpang. Mukanya tampak pucat, mungkin karena lelah. Ia menompangkan kedua tangannya pada kaki, dan kepalanya menunduk. Ia putus asa. Ia ingin marah pada dirinya sendiri. "Hey..." Tiba-tiba ada suara seorang gadis menyapanya. "Kamu ngapain di sini?" Lanjut gadis itu. Laki-laki itu-pun menengadahkan kepalanya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia belum terlambat. "Kamu belum berangkat?" Hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapkan. Gadis itu duduk di sebelahnya. "Belum, keretaku masih setengah jam lagi." "Aku tadi buru-buru ke sini begitu ingat bahwa kamu akan pergi hari ini." Ia menghela nafas, mencoba mencari ketenangan dalam ...