Postingan

Rindu

Ada yang meredam cemas pada rintik gerimis diluar Mengepal tangan dengan mata penuh genangan Ada yang tersirat di wajahnya Rindu-rindu yang mengambang Berharap kau segera di hadapan Hei, sapanya begitu kau datang Senyum simpul bibirnya Gemuruh hatinya yang mereda setetes gerimis turun di pipinya Dua tetes Tiga ... Empat ... Hingga jatuh lalu terisak Begitu dalam Bukan sekedar rindu Itu kasih, Itu sayang, Juga cinta Maka pahamilah, Ada yang sedalam itu, kepadamu

Purnama Merindu

Ada yang mengintip di  balik jendela Lingkaran sinar benderang yang nampak Mebawa ketenangan Langit hitam abu-abu yang membawa kecemasan Hei Itu purnama Untuk kesekian kalinya Nampak berbeda Ia meredup Mungkin karena doa-doa manusia yang menyerah Menggantung asa tak lagi ada Mata-mata sembab menanti harapan Bukan apa-apa Hanya sedikit rindu saja Yang lama tak ingin lagi menunggu Ingin ku bunuh sepi Membenamkan pada cahaya cahaya yang tersirat hingga tak ada lagi yang wajah temaram menunggu temu Hei, ini kesekian purnama Tidakkah kau juga rindu?

Si Pemarah

Kenapa hatimu begitu keras Mengapa pikirmu begitu tak selaras Pada hal hal sederhana Pada hal hal yang tak sesuai harapan Api api itu memakan habis ruang hatimu Menggeloyoti alam pikirmu Sumpah serapah yang kau lontarkan Emosimu yang meluap luap Semuanya tak baik sampai kau mereda Sini, ku beri pelukan Hatimu perlu ku tenangkan Kita baik baik saja Ada aku, mari lalui bersama

Patah Hati Terhebat

Wanita itu masih sesenggukan disebalahku. Sudah satu jam, dan air matanya tak kunjung berhenti mengalir. “kau tak lelah menangis?” ucapku. Dia hanya diam. Aku-pun mengalihkan pandangan. “kau tahu, di luar sana, masih banyak manusia yang sama terlukanya sepertimu.” Dia menoleh. “bahkan, banyak dari mereka yang lebih terluka dibanding   kau yang menangis sesenggukan hanya karena laki-laki sialan itu memilih wanita lain.” Ucapku sinis. “tapi, hatiku tetap saja terluka. Kau tidak tahu rasanya!” nadanya sedikit meninggi. Ku sunggingkan sebelah bibirku “kau bahkan tidak tahu luka seperti apa yang pernah menganga lebar dihatiku.” Dia menatapku heran. “lukamu itu bisa sembuh, setelah satu dua bulan kau akan mulai terbiasa. Paling lama setahun dua tahun, atau setelah kau menemukan penggantinya, lukamu akan lekas membaik dan kau akan menganggapnya angin lalu.” “kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak merasakannya!” Dia memarahiku. “hey, justru aku ...

Tanda Tanya

Puisi ini tentang yang tak kau baca Yang baitnya tetap membisu Meski mereka menyuruhnya melagu Ia berbicara tentang sendu matamu Yang kerap berkata meski meragu Diam mulutmu tak membuatku pilu Aku terus saja bertanya Adakah itu karenaku? Ah, aku ingin diam di kepalamu Untuk sekedar mengerti sandiwara matamu Tak bisakah jelaskan saja padaku? Kemanakah hatimu ingin jatuh

Mimpi Semalam

Aku memutar sebuah lagu dari Fiersa Besari yang berjudul Garis Waktu dalam perjalananku pulang dengan menumpangi kereta. Petikan gitar mulai mengalun seiring dengan pikiranku yang mulai menerawang jauh pada banyak hal. Aku suka cara Fiersa Besari menulis lirik dalam setiap lagunya. Aku suka caranya dalam menulis setiap bait dalam bukunya. Setiap kata hingga kalimat yang tersusun selalu membuatku terenyuh dan menyeruak kembali dalam kenangan. Seolah dia sedang menuliskan itu untukku. Aku sedang menatap keluar jendela saat lagu mulai sampai pada bait yang membuatku tersentak. "Sekarang kita hanya dua orang asing dengan sejuta kenangan". Aku teringat seseorang yang dulu sering ku sebut "gila". Si gila yang dulu sering menggangguku, si gila yang dulu sering menggodaku, si gila yang kini ku rindukan, dan si gila yang sudah terlalu asing bagiku. Si gila itu menggangu pikiranku sejak semalam. Sejak mimpi tentangnya membuatku resah seharian. Dan bisa ku pastikan, k...

Berubah.

Seorang teman pernah berkata padaku, "people change, cit" dan aku paham betul mengenai hal itu. Aku tahu bahwa manusia tak pernah sama dari waktu ke waktu. Setiap fase hidup yang mereka jalani memberi mereka peluang merubah dirinya, merubah pola pikirnya. Dan tentu, setiap orang ingin berubah ke arah yang lebih baik. Hari itu, aku tak sengaja melihat fotomu. Hatiku yang dingin berubah hangat ketika melihatnya. Aku tersenyum kecil, namun ada yang sedikit menyesakan. Ku amati lekat, ada yang berbeda. Kamu bukan kamu yang ku kenal dulu. Hatiku teriris. Seseorang yang pernah ku kenal dekat, kini jauhnya tak hanya seribu sekat. Miris. Lagi-lagi, kata "people change" terngiang-ngiang, dan aku berusaha memaklumi. Ada orang asing dalam dirimu. Lalu bagaimana denganku? Ini pertanyaan yang selalu ku ajukan kepada diriku sendiri. Aku ingin merubah pola pikirku, dan sedikit demi sedikit berhasil. Aku ingin merubah hatiku, dan sampai detik ini, ternyata belum juga ada ...