Postingan

Jarak

Ruang-ruang kosong ini sudah semakin melebar. Kunamai ia sebagai jarak. Yang jauhnya tak lagi bisa ku harapkan sedekat nadi. Andai bisa ku capai hanya dalam kerdipan mata. Betapa bahagianya aku. Menjadi manusia yang bisa melepas rindu pada setiap saat aku ingin.  Tapi ini jarak. Ribuan kilometer yang membentang, seakan jadi satu hal yang paling mematahkan perasaan.  Aku benci perasaan ini. Perasaan ingin bertemu, ingin berpeluk, ingin menyentuh senyum di wajah indahnya. Ah, tangisku tak bisa ku bendung lagi. Betapa ini sangat menyesakan.  Mereka tak kan mengerti, karena tak tahu rasanya jadi aku.  yang bisanya hanya melambungkan doa-doa pada semesta. yang bisanya hanya menatap kereta dengan mata berkaca, berharap aku di dalamnya, membawaku pada pelepas rinduku, membawaku pada perasaan yang jauh dari kesesakan.  Adakah yang bisa menolongku lari dari semua ini? ataukah aku harus bertahan? meski sebenarnya, aku tidak tahu sampai dimana batas kemampuanku. 

(?)

Aku penasaran, bagaimana rasanya menemukan, juga ditemukan.  Aku penasaran, rasanya mendengarkan lagu romantis yang membuat perasaan menggelitik.  Aku penasaran, bagimana rasanya menjadi yang kau imami.  Aku penasaran, bagaimana rasanya mengawali hari dengan melihat wajahmu di sebelahku.  Aku penasaran, bagaimana melewati petang dengan menyambutmu pulang.  Aku penasaran, sebelum tidurku dihabiskan dengan bertanya bagaimana harimu.  Aku penasaran, bagaimana rasanya tak lagi sendirian.  Aku penasaran, rasanya ditenangkan saat gundah.  Aku penasaran, bagaimana rasanya memiliki teman berbagi bermacam perasaan, sekalipun hal yang paling menyesakkan.  Aku penasaran, bagaimana langkah kakiku nanti berjalan ke arahmu.  Aku penasaran, bagaimana masaku nanti ketika bersamamu.  Aku penasaran, dimana, kapan, bagaimana, dan masih banyak penasaran-penasaran lain.  Kali ini kau masih ku dekap dalam doa.  Semoga segera kau ku jerat dalam ...

Suatu Hari di 2020

Hari ini ada sesuatu yang menggelitik perasaanku. Tentang takdir Tuhan yang rupanya sedang mengajak kita bercanda. Awal 2020 lalu, doaku masih tentang harapan-harapan kita, mimpi-mimpi kita, juga tentang rencana indah yang kita rancang entah sejak berapa tahun lalu. Tapi hari ini, aku menemukan jika kamu pada akhirnya telah melabuhkan hatimu pada seseorang yang akan membersamaimu, dan tentu saja, itu bukan aku. Masih terngiang di kepalaku perbincangan terakhir kita. Pertanyaanku mengenai kemana sebenarnya hubungan kita akan dibawa, juga tentang kemana sebenarnya perasaan kita ingin jatuh. Sampai pada akhirnya keraguan menyadarkan kita, juga ketidaksiapanmu, serta mimpi-mimpi kita yang dulu terasa sama dan searah namun berakhir lumpuh di tengah jalan. Rupanya langkah kaki kita selama ini tak pernah berjalan beriringan. Kita hanya saling berhadapan, mencoba bertahan untuk menetap, sama-sama terjerat oleh keterpaksaan, sampai akhirnya kita sama-sama tahu, kita berhak bahagia, meski...

Mengurai Ingatan

Tidak ada lagi yang bisa membawaku kepadamu Kecuali, puisi puisi ini Setiap katanya adalah tentangmu Tentang kita Juga tentang rindu-rindu yang tenggelam dimakan waktu Puisi ini adalah malam malam sunyi Ketika nyawanya hilang begitu kamu pergi Sungguh ironi Bertemankan kata-kata setiap malam justru semakin membawaku padamu Seperti buku-buku usang yang selalu ku baca Adegan-adegan favoritku yang selalu terngiang Begitu aku kini Aku ingin berhenti Sejenak ingin kehilangan kata Tapi, segala hal tentangmu tak pernah membuat penaku berhenti bercerita Rupanya aku bukan seseorang yang mudah melupakan Bukan seperti katamu Jika ada kesempatan untuk menghapus beberapa ingatan Maka seluruh halaman tentangmu akan ku pilih Berteman denganmu dalam ingatan sungguh melelahkan Karena ini percuma, menunggumu kembali pun tak mungkin Jika setelah ini tentangmu masih saja ku tulis, Maka, aku tak tau lagi Hatiku ini terlalu bebal jika perihal tentangmu

Sebuah Jawaban

"hari ini dia melamarnya" - kata ibuku. Tiba-tiba aku tersentak. Ada yang tidak nyaman di hatiku. Sesak. Aku diam. "Tidak usah dipikir, mungkin bukan jodoh yang terbaik buatmu" lanjut ibuku, yang ku jawab dengan anggukan. Aku masuk kamar. Seketika ada yang tergenang di pipiku. Ku seka secepatnya. Aku terluka, sungguh. Ku ingat-ingat lagi apa yang terjadi sebenarnya. Kiranya bisa memberiku alasan dan mungkin jawaban. Dia memilih orang lain. Dari segala doa yang selalu ke sematkan, Tuhan memberiku jawaban. Hatiku lega meski masih menyesakan. Kepada seseorang yang pernah ku ingini, Semoga bahagia dengan teman ibadah seumur hidup yang sudah kamu pilih. Doakan aku, semoga segera menemukan, juga.

Rindu

Ada yang meredam cemas pada rintik gerimis diluar Mengepal tangan dengan mata penuh genangan Ada yang tersirat di wajahnya Rindu-rindu yang mengambang Berharap kau segera di hadapan Hei, sapanya begitu kau datang Senyum simpul bibirnya Gemuruh hatinya yang mereda setetes gerimis turun di pipinya Dua tetes Tiga ... Empat ... Hingga jatuh lalu terisak Begitu dalam Bukan sekedar rindu Itu kasih, Itu sayang, Juga cinta Maka pahamilah, Ada yang sedalam itu, kepadamu

Purnama Merindu

Ada yang mengintip di  balik jendela Lingkaran sinar benderang yang nampak Mebawa ketenangan Langit hitam abu-abu yang membawa kecemasan Hei Itu purnama Untuk kesekian kalinya Nampak berbeda Ia meredup Mungkin karena doa-doa manusia yang menyerah Menggantung asa tak lagi ada Mata-mata sembab menanti harapan Bukan apa-apa Hanya sedikit rindu saja Yang lama tak ingin lagi menunggu Ingin ku bunuh sepi Membenamkan pada cahaya cahaya yang tersirat hingga tak ada lagi yang wajah temaram menunggu temu Hei, ini kesekian purnama Tidakkah kau juga rindu?